kelas : 4E
CATATAN HARIAN SEMESTER 3
Semester tiga ini adalah dimana semester yang membuat saya banyak mendapat pengalaman. Salah satu faktor yang mendorongnya adalah organisasi himpunan mahasiswa program studi pendidikan agama Islam (HMPS PAI). Jika saya tidak ikut serta dalam organisasi tersebut mungkin bisa jadi saya hingga saat ini masih melakukan aktivitas di rumah. Seperti yang kita ketahui bahwa perkuliahan hingga saat ini masih dilaksanakan secara daring (online). Mungkin di semester tiga ini ada sebagian semester yang melakukan proses perkuliahan secara tatap muka (offline), yakni semester satu. Selain dari semester satu perkuliahan masih dilaksanakan secara daring. Atau bisa jadi tergantung kepada dosen yang mengajar. Nah kebetulan rata-rata dosen yang mengajar di kelas saya melakukan proses perkuliahan dengan via whatsapp, google meet, e-learning dan lain-lain. Hanya beberapa dosen yang ingin melakukan proses pembelajaran seacara offline, bagi mereka proses perkuliahan yang di lakukan secara online ini kurang efektif untuk dilaksanakan. Karena tak sedikit pula mahasiswa yang hanya sekedar hadir di google meet namun tidak sepenuhnya mengikuti proses pembelajaran kuliah. Belum lagi banyak mahasiswa yang terhambat oleh sinyal ataupun biaya untuk membeli kuota internet.
Entah sampai kapan pembelajaran online ini berlangsung yang jelas semua ini karena virus covid yang tak kunjung hilang bahkan datang dengan berbagai varian. Saat ini seluruh masyarakat Indonesia bahkan di dunia diwajibkan untuk melakukan vaksinisasi virus covid 19. Saat itu vaksin hanya dilakukan satu kali. hingga akhirnya harus dilakukan dua kali hingga saat ini pun bahkan harus melakukan vaksin yang ketiga kalinya. Entah sampai kapan vaksin ini berlanjut, atau bisa jadi nanti kedepannya akan ada vaksin-vaksin seterusnya hingga kita yang seharusnya meninggal karena terkena covid malah menjadi meninggal karena overdosis vaksin. Kita juga tidak tau pasti apa yang disuntikkan kedalam tubuh kita. Selama ini yang kita ketahui hanyalah obat untuk mencegah atau meningkatkan ketahanan tubuh kita agar terhindar dari virus covid ini. Namun kembali lagi seperti yang kita lihat bahwa akan ada covid-covid dengan varian yang berbeda datang dengan seiring jalannya waktu, dan apakah akan ada vaksin ke-4 atau ke-5 dan seterusnya? Saya harap pemerintah segera menemukan solusi untuk pemecahan masalah ini. Sekarang pun sudah banyak tempat yang menyediakan alat scan barcode untuk bukti bahwa kita sudah vaksin, jika kita belum vaksin maka kita tidak boleh masuk ke tempat tersebut.
Di semester tiga ini kami sekelas mengalami ketinggalan pelajaran di mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam. Karena dosen yang mengajar kami awalnya hanya masuk selama dua pertemuan saja. Setelah itu beliau jatuh sakit. Akhirnya sampai pertemuan ke sebelas pun beliau masih terbaring di rumah sakit. Hingga akhirnya beliau meninggal dunia. Padahal saat pertama masuk kuliah kami sekelas sudah membuat rencana bersama dosen itu untuk silaturahmi mengunjungi rumahnya. Namun apalah daya manusia hanya bisa berencana dan takdir Allah SWT pun berkata lain. Mungkin Allah SWT lebih sayang kepada beliau. Semoga ia ditempatkan di tempat yang selayaknya di sisi Allah SWT. Aamiinn. Namanya adalah bapak Muhammad natsir, beliau dosen yang baik dan ramah.
Nah di pertengahan semester tiga, HMPS prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) seluruh Indonesia megadakan musyawarah nasional (MUNAS) dan kebetulan IAIN PONTIANAK menjadi tuan rumah untuk diselenggarakannya kegiatan tersebut. Kami HMPS menyiapkan acara tersebut selama 2 bulan. Bagi saya pribadi 2 bulan adalah waktu yang bisa dibilang mendadak untuk menyiapkan kegiatan tersebut, apalagi di tingkat nasional. Kami juga sempat kekurangan orang untuk menjadi panitia, namun karena kerja keras yang kami lakukan saat itu akhirnya membuahi hasil yang cukup memuaskan.
Kami dibagi menjadi beberapa bidang dan kebetulan saya di beri amanah untuk menjadi anggota di bidang Liasion Officer (LO). Profesi yang bertugas menjadi penengah hubungan antara perusahaan/organisasi satu dengan yang lain. Lo berperan untuk mengkoordinir kegiatan dalam sebuah acara. Dengan kata lain, liaison officer bagian dari struktur kepanitiaan. Liaison officer familiar disingkat dengan LO. LO juga menjadi jembatan komunikasi antara panitia dan peserta. LO juga yang sigap dan cepat untuk mengecek kekurangan perlengkapan atau yang lainnya yang berkenaan dengan peserta. Selain itu juga menemani peserta MUNAS jika ingin keliling Pontianak. dan yang paling penting adalah LO yang mengantar jemput peserta selama kegiatan berlangsung. Nah LO disini banyak bertugas di hari-H kegiatan nanti terutama di lapangan.
H-1 Munas kami para LO ditugaskan untuk menjemput peserta di bandara. Ternyata dari IAIN PAPUA datang lebih awal dibandingkan peserta lainnya. Kami menjemput peserta menggunakan mobil kantor IAIN. Ada 3 mobil yang disediakan untuk LO guna menjemput antar peserta. Selanjutnya di hari – H kegiatan banyak sekali peserta yang datang secara bersamaan. Kami para LO hampir keteteran untuk menjemput peserta di bandara. Hampir seluruh provinsi di Indonesia hadir di Pontianak, hanya ada beberapa yang tidak dapat hadir dengan alasan tertentu. Kegiatan munas ini berlangsung selama 5 hari. Bagi saya pribadi ini adalah pengalaman yang tidak pernah saya alami dan saya beruntung bisa ikut serta dalam kepanitiaan ini. Karena ini kali pertamanya saya berbicara bahkan melayani orang-orang dari berbagai daerah dengan bahasa yang berbeda den kepribadian yang berbeda. Disinilah saya bisa melihat bahwa ada sifat atau kepribadian yang berbeda dan kepribadian itu menjadi ciri khas dan penanda asal dari peserta itu
Alhamdulillah seluruh peserta bisa senang dan nyaman akan pelayanan dari LO Munas IAIN Pontianak, namun ada satu peserta yang mungkin sedikit risih melihat tingkah kami melayani peserta, karena dia menilai bahwa kami terlalu berlebihan melayani peserta, seabagai contoh ketika kami bersalaman dengan badan agak sedikit nunduk sebagai tanda kami menghormati peserta. Nah hal ini dianggap berlebihan oleh salah satu peserta Munas asal IAIN KENDARI pada saat itu, namun ketika kami menjelaskan tujuan dan arti kami melakukan hal tersebut se mata-mata untuk menghormati mereka, akhirnya peserta asal kendari ini bisa mengerti dan paham. Nah gara;gara kejadian tersebut kami dan peserta munas asal kendari itu akhirnya menjadi akrab, terkadang kami juga tukar pikiran, mgopi bareng ketika diluar kegiatan. Namanya adalah Abdul Rozak. Ia adalah salah satu anggota BEM di IAIN kendari. Kami banyak mengenal tentang kendari karena beliau. Kami memamnggilnya bang rozak. Kami juga bertanya tentang alasan bang rozak mengatakan bahwa sikap kami berlebihan. Ia menjawab bahwa di kendari tidak orang salam dengan badan yang agak sedikit menunduk. Disana mereka hanya berselaman seperti biasanya. Kalaupun mereka harus menunduk dan sungkem itu ketika mereka bersalaman kepada orang tua mereka.
Di hari terakhir Munas kami LO di beri amanah untuk mengadakan field trip atau study tour ke tempat-tempat berpengaruh atau bersejarah yang ada di Pontianak. tentu tujuan yang pertama kali kita tujui yakni keraton kadariah sedikit saya ceritakan tentang keraton kadariah. Keraton Kadariah (Keraton Qadriah) adalah istana Kesultanan Pontianak yang dibangun pada dari tahun 1771 sampai 1778 masehi. Sayyid Syarif Abdurrahman Al-qadrie adalah sultan pertama yang mendiami istana tersebut. Keraton ini berada di dekat pusat Kota Pontianak Kalimantan Barat sebagai cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak, Keraton Qadriah menjadi salah satu objek wisata sejarah. Dalam perkembanganya, keraton ini terus mengalami proses renovasi dan rekrontuksi hingga menjadi bentuk yang sekarang ini. Keberadan keraton Kadariah tidak lepas dari sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie (1738-1808M), yang masa mudanya telah mengunjungi berbagai daerah di Nusantara dan melakukan kontak dagang dari para Saudagar di berbagai Negara. Ketika Habib Husein Alkadrie, yang pernah menjadi Hakim agama kerajaan Matan dan ulama terkemuka di Kerajaan mempawah, wafat pada tahun 1770M, Syarif Abdurrahman beserta keluarganya memutuskan untuk mencari daerah pemukiman baru. sampai pada tanggal 23 oktober 1771M (24 Rajab 1181H), mereka tiba di daerah dekat pertemuan tiga sungai, yaitu sungai Landak, Sungai Kapuas kecil dan Sungai Kapuas. mereka memutuskan untuk menetap didaerah tersebut
Secara historis Keraton Kadariah mulai dibangun pada tahun 1771M dan baru selesai pada tahun 1778M. Tak lama setelah Keraton selesai dibangun Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri di nobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak Dalam perkembanganya, keraton ini terus mengalami proses renovasi dan rekonstruksi hingga menjadi bentuk yang sekarang ini. Selanjutnya dari keraton kadariah kami menuju ke masjid jami’ Pontianak, di sana kami melaksanakan sholat dzuhur berjamaah setelah istiraht sebentar dan makan bersama di selasar masjid jami’ Pontianak. sedikit saya bercerita tentang masjid jami’ Pontianak Masjid Jami' Pontianak atau dikenal juga dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman adalah masjid tertua dan terbesar di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Masjid ini merupakan satu dari dua bangunan yang menjadi pertanda berdirinya Kota Pontianak pada 1771 Masehi, selain Keraton Kadriyah.
Pendiri masjid sekaligus pendiri Kota Pontianak adalah Syarif Abdurrahman Alkadrie. Ia seorang keturunan Arab, anak Al Habib Husein, seorang penyebar agama Islam dari Jawa. Al Habib Husein datang ke Kerajaan Matan pada 1733 Masehi. Al Habib Husein menikah dengan putri Raja Matan (kini Kabupaten Ketapang) Sultan Kamaludin, bernama Nyai Tua. Dari pernikahan itu lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang meneruskan jejak ayahnya menyiarkan agama Islam.
Syarif Abdurrahman melakukan perjalanan dari Mempawah dengan menyusuri sungai Kapuas. Ikut dalam rombongannya sejumlah orang yang menumpang 14 perahu. Rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Kemudian mereka membuka dan menebas hutan di dekat muara itu untuk dijadikan daerah permukiman baru. Abdurrahman mendirikan sebuah kerajaan baru Pontianak. Ia pun membangun masjid dan istana untuk sultan.
Masjid yang dibangun aslinya beratap rumbia dan konstruksinya dari kayu. Syarif Abdurrahman meninggal pada 1808 Masehi. Ia memiliki putera bernama Syarif Usman. Saat ayahnya meninggal, Syarif Usman masih berusia kanak-kanak, sehingga belum bisa meneruskan pemerintahan almarhum ayahnya. Maka pemerintahan sementara dipegang anak yang lain dari Syarif Abdurrahman, bernama Syarif Kasim. Setelah Syarif Usman dewasa, dia menjadi Sultan Pontianak, pada 1822 sampai dengan 1855 Masehi. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan Syarif Usman, dan dinamakan sebagai Masjid Abdurrahman, sebagai penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa ayahnya. Beberapa ulama terkenal pernah mengajarkan agama Islam di masjid Jami' Sultan Abdurrahman. Mereka di antaranya Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H. Ismail Jabbar, dan H. Ismail Kelantan. Masjid Jami' Pontianak dapat menampung sekitar 1.500 jamaah salat. Masjid akan penuh terisi jamaah salat, saat waktu salat Jumat dan tarawih Ramadan. Pada sisi kiri pintu masuk masjid, terdapat pasar ikan tradisional. Di belakangnya merupakan permukiman padat penduduk Kampung Beting, kelurahan Dalam Bugis dan di bagian depan masjid, yang juga menghadap ke barat, terbentang Sungai Kapuas. Nah dari masjid jami’ Pontianak kami menuju ke makam batulayang, ada juga yang mengatakan bahwa ketika kitaberada di Pontianak tapi belum menginjakkan kaki ke makam batulayang maka sama saja bahwa kita belum menginjakkan kaki ke Pontianak. sedikit saya cerita tentang makam batulayang. Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang merupakan aset ketiga warisan Kesultanan Pontianak sesudah Istana Kadriah dan Mesjid Sultan Abdurrahman. Konon ketiga lokasi ini mempunyai letak dengan garis lurus dari istana, dari arah timur ke barat. Komplek pemakaman dikhususkan bagi para Sultan Pontianak dan keluarganya. Makam Sultan Pontianak terletak di tepian Sungai Kapuas yang dahulunya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki, namun saat ini akses menuju lokasi tersebut sudah dapat mengunakan kendaraan. Makam Sultan Pontianak dikunjungi oleh peziarah dan wisatawan untuk mengetahui lebih lengkap tentang riwayat para Sultan Pontianak, dengan segala bukti keberadaannya.
Pada awalnya lokasi Makam Sultan Pontianak sebagai makam Sultan Abdurrahman yang wafat pada tahun 1808. Sultan dan kerabatnya telah memilih makam mereka di pinggir sungai Kapuas didaerah Batu Layang. Tidak ada alasan yang kuat mengapa dipilih tempat pemakaman para Sultan itu dipinggir Sungai Kapuas. Kebiasaan raja-raja Jawa atau Sumatera membuat tempat pemakaman disuatu bukit atau disekitar mesjid. Mungkin Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai makna khusus yang bernilai sejarah baginya. Pada awal kedatangannya menelusuri muara sungai Kapuas tahun 1771, ia menemukan sebuah pulau ditengah sungai yang kemudian disebut pulau Batu Layang. Ketika ia berhenti di pulau itu, disinilah ia mulai diganggu oleh para “hantu” (Kuntilanak atau Pontianak) menurut dongeng. Tetapi sesungguhnya ia telah diganggu oleh para bajak laut dan perompak yang menghalangi perjalannya memasuki muara sungai Kapuas. Lima malam lamanya ia berperang dengan para bajak laut dan akhirnya ia berhasil mengalahkan para bajak laut. Kemudian ia mendirikan kerajaan Pontianak, ditempat itulah beliau meminta untuk di makamkan (komplek Batu Layang).
Makam Sultan Syarif Abdurrahman terbuat dari kayu belian bertingkat dua. Diukir dengan motif tumbuhan bersulur yang selalu ditutupi dengan kelambu berwarna terang. Makam Sultan yang sudah berusia hamper 200 tahun itu telah banyak mendapat perbaikan dan perubahan. Disampingnya terdapat makam isterinya Puteri Utin Chandramidi yang wafat tahun 1246 H atau tahun 1830. Makam Sultan Syarif Kasim yang wafat tahun 1819 berpagar kayu dan berkelambu kuning. Disampingnya terdapat makam seorang isteri dan anaknya. Begitupun makam Sultan Syarif Usman yang wafat ahun 1860, dimakamkan bersama isteri dan keluarganya. Makam Sultan Syarif Usman dalam satu ruang berpagar khusus. Nisan para Sultan yang berbentuk gada, menunjukkan bahwa itu adalah makam seorang lelaki. Nisan keluarga perempuan bebrbentuk pipih.Demikian pula dengan makam Sultan Hamid I, Sultan Syarif Yusuf, Sultan Syarif Muhammad, Sultan Syarif Thaha dan Sultan Hamid II dalam kelompok tersendiri. Makam Sultan Syarif Muhammad yang naik tahta tahun 1895, wafat sebagai akibat keganasan tentara pendudukan Jepang bersama dengan Sultan dan Panembahan di Kalimantan dan puluhan ribu pemuka dan rakyat Kalimantan Barat tahun 1944. la ditangkap Jepang tanggal 24 Juni 1944. Setelah disiksa. Dikuburkan dipemakaman Kristen dekat gereja Katholik ( Jl. Kartini sekarang ) Pontianak. Baru pada tahun 1945, puteranya Sultan Hamid II memindahkan jenazahnya ke pemakaman Batu Layang. Di samping makam Sultan Syarif Muhammad dimakamkan isterinya Syecha Jamilah binti Mahmud Syarwani bergelar Maha Ratu Suri yang meninggal tanggal 14 April 1977. Terdapat pula makam Syarifah Fatimah binti Syarif Muhammad bergelar Ratu Anom Bendahara.
Sultan Syarif Thaha Alkadri bin Syarif Usman bergelar Pangeran Negara wafat pada hari Kamis 27 September 1984. Disebelahnya makam isterinya Raden Ajeng Sriyati bergelar Ratu Negara yang wafat hari Sabtu 12 Juni 1982. Sultan Hamid II yang wafat tanggal 30 Maret 1978 di Jakarta juga dima kamkan di pemakaman Batu Layang. Inilah prosesi pemakaman Sultan Pontianak terakhir. Semua upacara pemakaman para Sultan Pontianak dilakukan dengan upacara kebesaran oleh rakyat Pontianak. Kebesaran seorang Sultan dimakamkan dengan penuh upacara dengan perarakan perahu Lancang Kuning melalui sungai Kapuas. Nah setelah itu kami pergi ke tugu khatulistiwa Sejarah mengenai pembangunan tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung.
Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa: Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indiƫ: Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak dengan konstruksi sebagai berikut:
a. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
b. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.
c. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.
d. Tahun tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter.Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR (bahasa Belanda yang berarti Equator) sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter.Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur. Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metode terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out titik nol garis khatulistiwa dikoreksi [pranala nonaktif permanen]. Hasil pengukuran oleh tim BPPT, menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur.
Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia. Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di jalan Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir. Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan "menghilang" beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.
Setelah kunjungan ke tugu khatulistiwa kami menyempatkan untuk pergi ke tempat wisata waterfront Pontianak sekalian memperkenalkan kepada peserta Munas sungai Kapuas. Waterfront City merupakan sebuah taman kota yang berlokasi di Pontianak. Taman kota ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Wisatawan yang berdatangan dari luar daerah tertarik untuk datang kesini demi merasakan sendiri kelebihan dari taman kota ini. Beragam daya tarik yang dimiliki menjadi faktor banyaknya pengunjung yang berdatangan kesini.
1. Memiliki View Sungai Kapuas
Obyek wisata buatan bergaya hits ini dibuat oleh pemerintah kota pada tahun 2017. Taman kota ini menjadi salah satu wisata alternatif bagi masyarakat umum dan masyarakat yang berada di sekitar area. Wisatawan yang datang ke sini tidak hanya tertarik dengan konsep hits yang dihadirkan di taman kota, tetapi juga pemandangan Sungai Kapuas yang dimilikinya.Ruang terbuka publik ini memiliki gaya konstruksi yang dikenal futuristik dan bergaya hits. Lokasinya yang bersih serta terdapat tempat duduk di sepanjang taman pun sangat berdampak baik dalam meraup banyak pengunjung. Tak hanya desainnya saja yang patut dipuji, pemandangan Sungai Kapuas yang disuguhkan pun turut diapresiasi.Dengan hadirnya Waterfront City ini menjadikan Sungai Kapuas lebih berwarna dari sebelumnya. Pengunjung tidak hanya dapat merasakan keindahan seni dari taman kota, tetapi juga mendapatkan relaksasi dengan pemandangan Sungai Kapuas. Airnya yang tenang dan jauh dari kata sampah semakin menambah keindahan dari taman kota ini. Sangat direkomendasikan untuk pengunjung yang membawa keluarga.
2. Mengusung Konsep Hijau
Daya tarik selanjutnya dari taman kota ini adalah juga mengusung konsep hijau. Pada zaman sekarang ini, jumlah pepohonan yang tumbuh di dunia semakin berkurang. Walau termasuk kategori tidak punah, adanya pohon sangat berdampak baik bagi kualitas udara di sekitarnya. Oleh karena itu, pohon merupakan makhluk hidup yang termasuk penting dan perlu dilestarikan.Waterfront ini mempunyai ukuran panjang kurang lebih 600 m dengan ukuran lebar kurang lebih 8 m. Di dalam ukuran yang luas itu diisi berbagai benda, salah satunya pohon. Pohon yang tumbuh di taman kota ini berada di bagian bangku wisatawan. Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa konsep konstruksi dari taman kota ini bergaya futuristik.Gaya futuristik yang berada di lokasi ini dapat dibuktikan dengan adanya pot pohon yang sekaligus berfungsi sebagai tempat duduk pengunjung, sehingga tidak menghabiskan banyak tempat. Konsep yang jenius ini tentunya dapat menghasilkan udara yang sejuk dan asri di sekeliling taman kota. Lokasinya yang bersih dari sampah pun menarik perhatian para pecinta olahraga.
3. Beragam Permainan yang Seru
Berlibur bersama keluarga memang merupakan salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stress. Selain mendapatkan hiburan, kita juga bisa mendapatkan manfaat lainnya seperti menambah keharmonisan dalam sebuah keluarga. Untuk mendapatkan liburan bersama keluarga yang bermakna, kita perlu berekreasi ke tempat-tempat yang ramah keluarga.
Seperti halnya waterfront ini, selain menghadirkan pemandangan yang ciamik dari Sungai Kapuas serta mengusung tema hijau. Taman kota ini juga memiliki beragam permainan seru yang bisa pengunjung gunakan bersama keluarga tercinta. Sungguh, taman kota ini merupakan taman kota yang sangat baik. Pantas saja kalau presiden kita memuji kelebihan dari waterfront satu ini. Beragam permainan seru yang disediakan menjadi salah satu daya tarik pengunjung. Permainan yang tersedia seperti halnya skuter listrik, motor listrik, becak mini, mobil remote dan lain-lain berdampak sangat baik bagi penambahan jumlah pengunjung di taman kota ini. Jadi tidak perlu diragukan lagi kelebihan-kelebihan yang ditawarkan oleh waterfront satu ini. Waterfront City merupakan salah satu destinasi wisata buatan mengagumkan yang terletak di Pontianak tepatnya di Jalan Barito. Lokasi taman kota ini hanya berjarak 700 m dari Kota Pontianak. Akses jalan menuju destinasi wisata buatan ini sangat mudah dilalui, baik oleh kendaraan beroda dua maupun beroda empat karena lokasinya yang berada di tengah-tengah kota.Waktu tempuh yang diperlukan untuk menyambangi danau berair jernih ini kurang lebih sekitar 5 menit jika dimulai dari Jalan Asahan di Pontianak. Mengingat beragam daya tarik yang disuguhkan oleh waterfront ini, pada saat tanggal-tanggal merah seperti halnya lebaran ataupun libur sekolah. Jalan menuju taman kota akan sedikit ramai sehingga akan mempengaruhi waktu tempuh menuju lokasi. Untuk menyambangi taman kota ini, wisatawan dapat memulai perjalanan dari arah timur laut Jalan Asahan. Lanjutkan perjalanan menuju Jalan Sultan Moh. Setelah sampai di Jalan Sultan Moh, wisatawan dapat meneruskan perjalanan ke Jalan Gst Ngurah Rai dengan mengarahkan kendaraan kearah kanan. Lalu, lanjutkan perjalanan hingga menemui lokasi wisata yang terletak di sebelah kiri. Dengan waktu kurang dari 15 menit tepatnya hanya 7 menit dengan jarak 700 m dari Jalan Asahan Pontianak. Wisatawan sudah bisa menyaksikan sendiri keindahan desain dari taman kota ini. Wisatawan bisa berkunjung bersama keluarga dan menikmati bersama suguhan Sungai Kapuas yang dihadirkan oleh waterfront ini. Sungguh, sebuah pilihan liburan yang sangat bagus. Setelah itu kami kembali mengantar peserta ke peninganapan dan bersiap;siap untuk mengantarkan peserta ke bandara keesekan harinya. Itulah pengalaman saya menjadi LO yang tidak bisa saya lupakan.